Rabu, 29 Juni 2011

MAKAM KI AGENG MANDARAKA / KI JURU MARTANI

    Subhanallah, rupanya benar-benar ada beberapa versi makam Ki Ageng Mandaraka / Ki Juru Martani.
Selama ini, saya beberapakali ziarah ke Makam Raja-raja Mataram Kota Gede Yogyakarta, yang saya ketahui makam Ki Ageng Mandaraka / Ki Juru Martani ada di komplek makam tersebut.
    Memang pernah pada saat saya berkunjung ke rumah seorang teman kantor, didaerah mondorakan kota gede, dia menunjukkan dibelakang rumahnya ada beberapa makam tua, yang di yakini juga sebagai makam Ki Ageng Mandaraka / Ki Juru Matani, bahkan.....dahulu pernah keluarganya ada yang sakit, bermimpi di datangi orang tua, dan orang tua tsb mengobatinya, dan ternyata yang sakit itu bisa sembuh, maka keluarga tsb kepada saya meyakini bahwa orang tua datang dalam mimpinya adalah Ki Ageng Mandaraka / Ki Juru Martani yang makamnya ada dibelakang rumahnya.
    Sebenarnya saya tidak terlalu mengindahkan pendapat teman saya itu, hingga selasa 28 Juni 2011, saya membuka web tembi.org, saya terperangah, ternyata pada obyek situsnya ada judul DUA VERSI MAKAM KI AGENG MANDARAKA / KI JURU MARTANI.
    Sangat bersyukur, dan sangat berterimakasih pada tembi.org, karena saya pengagum beliau, dan juga saya berdomisili di Jogja serta keterangan lokasi makam beliau yang mudah terjangkau, alhamdulillah....Rabu 29 Juni 2011, saya bisa sampai di lokasi makam beliau.


   Bersama ini literaturnya dari tembi.org.


DUA VERSI MAKAM KI AGENG MANDARAKA (KI JURU MARTANI)
Keletakan 
Versi resmi atau versi yang diakui oleh mayoritas masyarakat bahkan juga sejarawan menyatakan bahwa makam Ki Ageng Mandaraka terletak di Kompleks Makam Raja-raja Mataram Kotagede, di Kotagede, Yogyakarta. Makam ini berdampingan dengan kompleks Masjid Agung Kotagede dan Sendang Selirang. Makam ini posisinya berada di sisi selatan Pasar Kotagede.
Versi lainnya menyatakan bahwa makam Ki Ageng Mandaraka terletak di Dusun Pundung, Kalurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Posisi Dusun Pundung berada di sisi selatan Dusun Mlangi tempat teradapatnya kompleks Masjid Pathok Negoro Mlangi. Lokasi ini dapat dijangkau dengan melalui jalan ring road barat Yogyakarta.

Kondisi Fisik

Makam Ki Ageng Mandaraka di Dusun Pundung ini telah dibangun cukup bagus. Cungkup makam memiliki arah hadap ke selatan dengan daun pintu kayu gaya kupu tarung. Bangunan cungkup bergaya joglo dengan dinding kaca di ke empat sisinya yang ditutup kelambu warna putih. Cungkup dikelilingi pagar tembok setinggi sekitar satu meter. Pagar dibuat berlubang-lubang dalam bentuk persegi panjang dengan arah vertikal. Selang-seling lubang dan tembok membentuk pola semacam jeruji. Pintu cungkup makam hampir selalu dalam keadaan terkunci atau digembok. Nisan makam dari Ki Ageng Mandaraka berukuran relatif besar. Panjangnya sekitar 185 Cm, lebar sekitar 90 Cm, dan tinggi hingga kepala jirat sekitar 90 Cm. Nisan ini selalu dalam keadaan terselubungi kain mori atau langse berwarna putih.
Makam Ki Ageng Mandaraka di Dusun Pundung ini juga dilengkapi dengan dua buah ruang berbentuk persegi memanjang di sisi barat dan utaranya. Dua buah ruang ini digunakan untuk berdoa dan membaca buku-buku keagamaan. Makam Ki Ageng Mandaraka di Dusun Pundung terletak di sudut desa dan relatif kurang kelihatan dari jalan. Akses jalan menuju makam ini relatif sempit dan harus melewati beberapa halaman rumah penduduk.

Latar Belakang 

Ki Ageng Mandaraka atau Ki Juru Mertani adalah salah satu dari tiga serangkai murid-murid Ki Ageng Sela yang terkenal. Murid-murid Ki Ageng Sela ini dalam buku sejarah sering disebut sebagai tokoh-tokoh atau orang-orang dari Sela. Mereka bertiga adalah Ki Juru Mertani, Ki Penjawi, dan Ki Ageng Pemanahan. Ki Penjawi kelak mendapatkan tanah Pati dan Ki Pemanahan mendapatkan Tanah Mentaok setelah berhasil mengalahkan Adipati Arya Penangsang. Sementara Ki Juru Mertani ikut membuka Hutan Mentaok bersama Ki Ageng Pemanahan.
Ki Ageng Mandaraka atau Ki Juru Mertani adalah putra Ki Ageng Saba (Ki Ageng Made Pandan). Ibunya adalah salah satu putri dari Ki Ageng Sela. Ki Ageng Saba adalah putra Sunan Kedul. Sedangkan Sunan Kedul adalah putra dari Sunan Giri. Dengan demikian ia adalah cicit dari Sunan Giri. Versi lain menyatakan bahwa ia adalah cucu Ki Ageng Made Pandan I. Sedangkan nama ayahnya adalah Ki Ageng Pangkringan (Ki Ageng Pakiringan) dan ibunya bernama Rara Janten.
Ki Juru Mertani mempunyai 3 orang saudara, yakni Nyai Ageng Laweh, Nyai Manggar, dan Putri. Versi lain menyatakan bahwa ia memiliki adik perempuan bernama Nyai Sabinah yang kemudian dinikah oleh Ki Ageng Pemanahan. Jadi, ia adalah kakak ipar Ki Ageng Pemanahan. Dalam perurutan silsilah ia adalah saudara sepupu Ki Ageng Pemanahan sekaligus saudara ipar.
Pada masa mudanya Ki Juru Mertani bersama-sama dengan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi pernah menjadi murid Ki Ageng Sela (kakek Ki Ageng Pemanahan). Selain itu disebutkan juga bahwa mereka bertiga pernha berguru kepada Sunan Kalijaga. Ketiganya menjadi tiga serangkai yang memiliki daya linuwih baik secara kanuragan maupun kebatinan. Kelak ketiganya pun menjadi orang-orang pilih tanding.
Ki Ageng Pemanahan kelak menjadi orang yang mendapatkan hadiah Hutan Mentaok yang kemudian dibukanya bersama Ki Juru Mertani menjadi Perdikan Mataram. Ki Penjawi mendapatkan tanah Pati dan menjadi Adipati di wilayah Pati, Jawa Tengah. Ki Juru Mertani sendiri kelak menjadi patih di awal-awal kebangkitan Kerajaan Mataram Islam.
Ki Juru Mertani yang kemudian bergelar Ki Ageng Mandaraka memiliki dua orang putra, yakni Pangeran Madura dan Pangeran Juru Kiting. Pangeran Madura kelak berputra Pangeran Mandurareja (Adipati Mandurareja) dan Pangeran Upasanta. Keduanya pernah menjadi senopati andalan Mataram dalam menghantam Batavia (1628). Pangeran Mandurareja disebutkan pernah hendak membangkang pada Sultan Agung namun urung. Pangeran Mandurareja diperintahkan menggempur Batavia dan tidak diperkenankan pulang ke Mataram sebelum Batavia jatuh. Namun Pangeran Mandurareja mengalami kekalahan dalam peperangan tersebut. Ia bermaksud pulang ke Mataram dalam kondisi kalah perang. Oleh karena hal demikian, ia pun dijatuhi hukuman mati oleh Sultan Agung.
Sementara itu Pangeran Upasanta (Tumenggung Upasanta) di kemudian hari diampuni oleh Sultan Agung sekalipun ia kalah dalam berperang. Ia kemudian diangkat sebagai Bupati di Batang (dekat Pekalongan). Salah satu putri dari Pangeran Upasanta ini bahkan kemudian dinikahi oleh Sultan Agung dan melahirkan putra mahkota yang bernama Pangeran Arya Mataram yang kelak bergelar Sunan Amangkurat Agung atau Sunan Amangkurat Tegalarum.
Perolehan hadiah tanah Hutan Mentaok dari Sultan Hadiwijaya (Sultan Pajang) kepada Ki Ageng Pemanahan (dan nanti diwarisi oleh Danang Sutawijaya/Panembahan Senapati) tidak lepas dari peranan atau strategi yang diterapkan oleh Ki Juru Mertani. Semula Pemanahan dan Penjawi pun enggan menghadapi Arya Penangsang. Namun atas nasihat Juru Mertani mereka berangkat mengikuti sayembara yang dikeluarkan oleh Sultan Hadiwijaya. Atas nasihat dan strategi Juru Mertani pula mereka dapat memenangkan peperangan itu dan sekaligus melibatkan Danang Sutawijaya.
Ketika Mataram mulai berdiri, Juru Mertani pun ikut mendukungnya. Berdirinya Senopati menjadi penguasa Mataram juga tidak lepas dari peranan Ki Juru Mertani. Ki Juru Mertani yang menjadi penasihat sekaligus patih di Mataram akhirnya sempat menjabat jabatan itu dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni mulai tahun 1586 sampai dengan 1615. Ia sempat menjadi patih bagi raja Senapati (1586-1601), Mas Jolang (1601-1613), Pangeran Adipati Martapura (jadi raja hanya sehari), Sultan Agung (1613-1645). Ki Juru Mertani atau Ki Ageng Mandaraka meninggal tahun 1615.
=================================================
        Pada saat saya di lokasi makam tersebut, saya kagum, pada sisi komplek makamnya ada selasar-selasar untuk para santri dan santriwati salah satu pondok pesantren rutin mengaji dan mengirim doa untuk beliau. Memang lokasi makam tsb berada diwilayah pondok pesantren-pondok pesantren di Mlangi ataupun Pundung - Nogotirto, bahkan saya juga mendapat info dari seorang santri yang sedang tadarus di selasar makam tsb, bahwa yang menemukan dan membangun makan tsb adalah pengasuh pondok pesantrennya. Dan suasananya murni Islami, tidak ada bakaran dupa, sesajen dsb.

Teriring doa untuk Ki Juru Martani
****************************************
Ya Allah Ya Tuhanku
Ampunilah dosa-dosanya
Terimalah amal ibadahnya
Lapangkan dan terangilah kuburnya
Lindungilah ia dari siksa kubur, siksa padang masyar dan siksa api neraka
Dan masukkanlah pada surga Mu dengan ridho Mu, amin
*************************************************************************



bisnis

1 komentar:

  1. Salam kenal yaaa. Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, informasi buka http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/2013/01/ki-ageng-mangir-mempunyai-keturunan-di.html

    BalasHapus